Rusia Gunakan Drone Shahed dari China di Ukraina

Rusia Gunakan Drone Shahed dari China di Ukraina

Rusia Gunakan Drone Shahed dari China di Ukraina. Rusia terus mengandalkan drone Shahed dalam serangan jarak jauh ke Ukraina, dengan komponen kunci yang berasal dari China. Laporan terbaru menunjukkan bahwa Beijing menyediakan peralatan manufaktur dan teknologi dual-use senilai miliaran dolar, memungkinkan Rusia memproduksi massal drone ini di pabrik Alabuga, Tatarstan. Meski China membantah pasokan senjata langsung, dukungan ini memperkuat kemampuan Rusia menyerang target sipil dan militer Ukraina di tengah upaya diplomasi damai yang sedang berlangsung. INFO CASINO

Komponen China dalam Produksi Shahed: Rusia Gunakan Drone Shahed dari China di Ukraina

China telah mengirimkan mesin CNC (computer numerical control) buatan Beijing ke Zona Ekonomi Khusus Alabuga, fasilitas utama produksi drone Geran-2 (versi Rusia dari Shahed-136). Peralatan ini digunakan untuk memproduksi badan drone, sayap, dan komponen presisi lainnya. Selain itu, Rusia menerima jutaan dolar mikrochip, papan memori, ball bearings, teleskop bidik, serta kristal piezoelektrik dari China—semua barang dual-use yang secara resmi untuk keperluan sipil tapi mudah dialihkan ke militer.
Dukungan ini memungkinkan Rusia meningkatkan produksi Shahed hingga ribuan unit per bulan, termasuk varian jet-powered seperti Geran-3 dan Geran-5 yang lebih cepat dan sulit dicegat. Geran-5, misalnya, menggunakan mesin turbojet Telefly dari China, memungkinkan kecepatan hingga 600 km/jam dan jangkauan hampir 1.000 km dengan muatan 90 kg. Serangan massal drone Shahed pada 27–28 Januari 2026 melibatkan sekitar 90 unit dari berbagai lokasi seperti Kursk, Oryol, dan Crimea, menargetkan infrastruktur di Chernihiv, Dnipropetrovsk, Kharkiv, Kyiv, Odesa, dan Zaporizhia.

Penggunaan di Medan Perang dan Dampaknya: Rusia Gunakan Drone Shahed dari China di Ukraina

Drone Shahed tetap jadi senjata andalan Rusia untuk serangan murah dan masif ke belakang garis Ukraina. Mereka sering dilengkapi modifikasi seperti antena China untuk menghindari jamming elektronik Ukraina, serta komponen yang membuatnya lebih tahan terhadap pertahanan udara. Serangan ini menyasar infrastruktur energi, pelabuhan, dan sipil, memperburuk krisis listrik Ukraina di musim dingin. Pada malam 27–28 Januari saja, Rusia meluncurkan 146 drone berbagai jenis (mayoritas Shahed), dengan 36 unit lolos dan menghantam 22 lokasi.
Ukraina berhasil menembak jatuh sebagian besar, tapi tekanan konstan ini memaksa Kyiv mengalokasikan sumber daya besar untuk pertahanan udara. Modifikasi Shahed juga termasuk pemasangan Starlink (meski kontroversial) untuk jangkauan lebih jauh dan presisi, serta upaya memasang MANPADS untuk target udara Ukraina. Dukungan China memungkinkan Rusia mengatasi sanksi Barat, meningkatkan produksi drone, dan mempertahankan ofensif jarak jauh sambil bernegosiasi damai.

Bantahan China dan Respons Internasional

China menegaskan posisi netral, tidak menyuplai senjata langsung, dan tidak memanfaatkan konflik untuk keuntungan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Beijing menolak tuduhan bahwa dukungan ini memperpanjang perang, menyebutnya sebagai upaya memindahkan tanggung jawab. Namun, laporan investigasi menunjukkan aliran teknologi senilai lebih dari $10 miliar, termasuk untuk produksi Shahed dan misil Oreshnik.
Ukraina mengecam ini sebagai bentuk dukungan tidak langsung yang mematikan, sementara Barat mendesak sanksi lebih ketat terhadap perusahaan China yang terlibat. Di tengah pembicaraan damai yang dimediasi AS, eskalasi drone Shahed ini menambah ketegangan, menunjukkan Rusia tetap agresif di medan perang meski ada dialog.

Kesimpulan

Penggunaan drone Shahed yang didukung teknologi China di Ukraina menegaskan peran Beijing sebagai pendukung kunci industri pertahanan Rusia tanpa pasokan senjata langsung. Dengan produksi massal di Alabuga dan komponen dual-use yang krusial, Rusia mampu melancarkan serangan jarak jauh berkelanjutan, memperburuk penderitaan sipil Ukraina. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga geopolitik—dukungan tidak langsung ini memperpanjang konflik dan menguji diplomasi global. Bagi Ukraina, tantangannya semakin berat; bagi dunia, ini pengingat bahwa rantai pasok global bisa jadi senjata diam-diam dalam perang modern. Semoga tekanan internasional mendorong de-eskalasi segera.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *