Gaza: Serangan Israel Tewaskan Puluhan Warga. Serangan udara dan tembakan Israel kembali mengguncang Gaza, menewaskan puluhan warga sipil dalam beberapa hari terakhir. Pada 4 Februari 2026, setidaknya 23 orang tewas, termasuk anak-anak dan wanita, di berbagai wilayah seperti Gaza City dan Deir al-Balah. Insiden ini terjadi meski gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, yang dimediasi AS, tapi sering dilanggar oleh kedua belah pihak. Militer Israel mengklaim serangan sebagai respons terhadap serangan militan yang melukai seorang tentara mereka, sementara otoritas kesehatan Gaza melaporkan total korban tewas sejak gencatan mencapai lebih dari 550 orang. Situasi ini menambah ketegangan di wilayah yang sudah porak-poranda, dengan warga sipil menjadi korban utama di tengah klaim pelanggaran dari kedua sisi. REVIEW KOMIK
Latar Belakang Serangan dan Klaim Kedua Pihak: Gaza: Serangan Israel Tewaskan Puluhan Warga
Konflik yang sudah berlangsung hampir empat tahun ini sempat mereda dengan gencatan senjata Oktober lalu, tapi pelanggaran berulang membuatnya rapuh. Pada 4 Februari, militer Israel melancarkan serangan setelah mengatakan militan Hamas menembaki pasukannya di dekat “Garis Kuning” yang memisahkan zona kontrol. Seorang perwira Israel terluka parah dalam insiden itu, mendorong balasan berupa serangan udara dan tank yang menargetkan posisi militan di utara dan tengah Gaza.
Otoritas Gaza, yang dikelola Hamas, menyebut serangan itu sebagai “kejahatan brutal” dan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan. Mereka melaporkan bahwa serangan dimulai pagi hari, menghantam rumah-rumah, kamp pengungsi, dan bahkan kendaraan sipil. Di Tuffah, Gaza City, sebuah bangunan dihantam, menewaskan 11 orang dari satu keluarga, termasuk dua anak. Di Deir al-Balah, tembakan drone membunuh seorang wanita dan seorang pria, sementara di Khan Younis, serangan menewaskan seorang lagi. Israel membantah menargetkan sipil, mengklaim hanya membidik pemimpin militan dan ancaman langsung terhadap pasukannya.
Situasi serupa terjadi pada 10 Februari, ketika serangan udara di Gaza City menewaskan empat orang di sebuah apartemen perumahan, dan tembakan di Deir al-Balah serta Khan Younis menambah korban menjadi lima. Ini menunjukkan pola berulang: klaim pelanggaran dari satu pihak memicu respons militer, yang sering berujung pada korban sipil di daerah padat penduduk.
Dampak Kemanusiaan dan Korban Sipil: Gaza: Serangan Israel Tewaskan Puluhan Warga
Korban tewas dalam serangan terbaru ini mencakup kelompok rentan seperti anak-anak dan wanita. Pada 4 Februari saja, setidaknya lima anak tewas, termasuk bayi berusia 10 hari dan lima bulan, serta tujuh wanita dan seorang paramedis yang sedang bertugas. Rumah sakit seperti Shifa di Gaza City menerima puluhan korban luka, dengan laporan bahwa banyak di antaranya dalam kondisi kritis karena kurangnya pasokan medis akibat blokade berkepanjangan.
Sejak gencatan senjata, lebih dari 550 warga Palestina tewas akibat serangan Israel, dengan setengahnya adalah wanita dan anak-anak, menurut data kesehatan setempat. Di sisi lain, Israel melaporkan beberapa tentara terluka atau tewas dalam insiden serupa. Dampaknya tidak hanya fisik: ribuan warga Gaza mengungsi lagi dari rumah mereka, memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah yang sudah kehilangan infrastruktur dasar seperti listrik dan air bersih. Serangan terhadap infrastruktur energi baru-baru ini membuat jutaan orang tanpa listrik, memperparah penderitaan di musim dingin.
Warga sipil seperti keluarga di Tuffah bertanya-tanya, “Apa yang kami lakukan?” sementara paramedis berjuang menyelamatkan korban di tengah risiko serangan lanjutan. Situasi ini juga memicu demonstrasi di berbagai kota Palestina, menuntut perlindungan internasional dan akhir dari siklus kekerasan.
Reaksi Internasional dan Upaya Diplomasi
Komunitas internasional merespons dengan kecaman dan seruan gencatan senjata yang lebih kuat. AS, sebagai mediator utama, menyatakan bahwa pembicaraan damai di Abu Dhabi sedang berlangsung, tapi eskalasi seperti ini menghambat kemajuan. Utusan AS Steve Witkoff menyebut pertukaran tawanan baru-baru ini sebagai langkah positif, tapi menekankan perlu ada komitmen dari kedua pihak untuk menghentikan pelanggaran.
PBB dan organisasi hak asasi manusia seperti Human Rights Watch menyerukan investigasi independen atas serangan yang menewaskan sipil, menyebutnya sebagai potensi pelanggaran hukum internasional. Di sisi lain, Israel menegaskan haknya untuk membela diri terhadap ancaman militan, sementara Hamas menuduh Israel sengaja melemahkan gencatan untuk mempertahankan kendali atas wilayah timur Gaza.
Pembicaraan lanjutan dijadwalkan dalam waktu dekat, dengan harapan bisa mengurangi ketegangan sebelum eskalasi lebih lanjut. Namun, tanpa kemajuan pada isu inti seperti wilayah dan keamanan, siklus ini berisiko berlanjut.
Kesimpulan
Serangan Israel di Gaza yang menewaskan puluhan warga sipil pada awal Februari 2026 menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata saat ini. Meski dimaksudkan sebagai respons terhadap pelanggaran, dampaknya terhadap warga biasa—terutama anak-anak dan wanita—memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah. Di tengah reaksi internasional dan upaya diplomasi, kedua pihak perlu komitmen nyata untuk menghentikan kekerasan. Bagi warga Gaza, pertanyaan utama tetap: kapan perdamaian sejati akan datang? Langkah kecil seperti pertukaran tawanan bisa menjadi fondasi, tapi tanpa resolusi mendasar, siklus penderitaan ini akan terus berputar.