Perjuangan Warga Aceh Tamiang Bertahan Dari Banjir Bandang. Di tengah guyuran hujan deras yang tak kunjung reda, Kabupaten Aceh Tamiang di Aceh berubah menjadi lautan lumpur dan puing dalam sekejap. Pada 26 November 2025, banjir bandang melanda wilayah ini dengan kekuatan dahsyat, merenggut nyawa 42 warga dan memaksa lebih dari 278.000 jiwa mengungsi. Desa-desa seperti Kota Lintang dan Bukit Tempurung porak-poranda, rumah-rumah roboh, jalan nasional terendam, sementara bau bangkai dan kegelapan menyelimuti kota yang biasanya ramai. Hingga awal Desember ini, perjuangan warga untuk bertahan masih berlanjut, di antara tenda darurat dan harapan bantuan yang lambat tiba. Kisah mereka bukan sekadar angka korban, tapi potret ketangguhan manusia menghadapi alam yang tak terduga.
Penyebab dan Dampak Awal Banjir Bandang di Aceh
Banjir bandang ini bukan tamu tak diundang sepenuhnya. Hujan lebat yang mengguyur Aceh sejak akhir November memicu luapan sungai dan longsor di lereng bukit. Aceh Tamiang, dengan topografi datar dekat pantai dan sungai besar, rentan terhadap bencana seperti ini. Air deras datang tiba-tiba sekitar dini hari 26 November, setinggi tiga meter di pusat Kota Kuala Simpang. Warga terbangun oleh deru air yang membawa kayu, batu, dan kendaraan.
Dampaknya langsung terasa. Sebanyak 42 orang tewas, tiga luka berat, dan puluhan masih hilang hingga kini. Lebih dari 53.000 keluarga kehilangan rumah—ribuan bangunan rusak total, tertutup lumpur setebal lutut. Jalan lintas Sumatera terputus, isolasi total membuat evakuasi sulit. Listrik padam di seluruh kabupaten, meninggalkan kota dalam gelap gulita. Tak hanya material, trauma psikologis menimpa ribuan anak dan lansia. Seorang warga di Desa Bukit Tempurung kehilangan seluruh ternaknya, sementara mobil-mobil berserakan seperti mainan rusak di pinggir jalan. Dalam hitungan jam, Aceh Tamiang berubah dari daerah pertanian subur menjadi zona bencana darurat.
Perjuangan Warga Aceh di Tengah Krisis
Bayangkan bangun pagi dengan perut keroncongan, setelah malam bertahan di atap rumah atau masjid darurat. Itulah realita bagi ratusan ribu pengungsi di Aceh Tamiang. Mereka berpindah ke posko sementara seperti SMA Negeri Patra Nusa di Manyak Payed, berjarak belasan kilometer dari rumah. Perjalanan evakuasi tak mudah—beberapa berjalan kaki melewati air setinggi dada, membawa hanya tas kecil berisi pakaian dan dokumen.
Kelaparan menjadi musuh utama. Pada 28 November, seorang warga bernama Panji Akbar hampir putus asa; keluarganya hanya bertahan dengan sisa makanan basah dari reruntuhan. “Kami minta-minta nasi ke tetangga, bahkan makan apa saja yang tersisa,” ceritanya. Di pengungsian, antrean panjang untuk mie instan dan air minum jadi rutinitas harian. Anak-anak menangis karena dingin, lansia seperti Tengku Rusli, 67 tahun, beristirahat di beranda bangunan retak, ditemani istri yang kehilangan segalanya. Beberapa keluarga mendirikan tenda darurat di pinggir jalan, berbagi api unggun untuk masak apa adanya.
Tak hanya lapar, ancaman lain muncul. Penjarahan sporadis terjadi di malam gelap, di mana warga nekat ambil barang dari toko kosong untuk bertahan. Bau bangkai hewan dan sampah membusuk menambah penderitaan, sementara penyakit kulit dan diare mulai merebak karena air kotor. Meski demikian, solidaritas warga tak pudar. Mereka saling bantu gali saluran air, bagikan beras langka, dan doa bersama di masjid yang jadi tempat perlindungan 500 jiwa. Seorang ibu muda, misalnya, berbagi cerita bagaimana dia selamatkan anaknya dengan menggendongnya naik pohon saat arus deras datang. Perjuangan ini, meski melelahkan, menunjukkan sisi kuat masyarakat Aceh: gotong royong yang lahir dari pengalaman bencana masa lalu.
Upaya Penanganan dan Tantangan Saat Ini
Pemerintah tak tinggal diam, meski akses sulit jadi penghalang utama. Status darurat bencana diberlakukan sejak 28 November hingga 11 Desember, mencakup 14 kabupaten di Aceh termasuk Tamiang. Gubernur Muzakir Manaf baru tiba pada 4 Desember dini hari, membawa 30 ton bantuan: beras, obat-obatan, dan tenda. Tim BPBD Aceh, TNI-Polri, dan Basarnas bekerja siang malam evakuasi korban, dengan helikopter Caracal memantau dari udara. PLN buru-buru bangun tower darurat untuk pulihkan listrik, sementara relawan TAGANA distribusikan logistik ke kelompok rentan.
Tapi tantangan masih menumpuk. Hingga 5 Desember, beberapa ruas jalan masih tertutup longsor, menyulitkan truk bantuan masuk. Internet dan listrik belum pulih sepenuhnya, membuat koordinasi kacau. Relawan kesulitan capai desa terpencil, di mana warga masih cari jasad keluarga. Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, instruksikan seluruh tim kumpul data akurat, tapi angka korban jiwa dan kerusakan infrastruktur terus bertambah. Di sisi lain, bantuan dari luar daerah mulai mengalir—dari organisasi kemanusiaan hingga donasi swasta—tapi distribusi butuh waktu. Saat ini, prioritas utama adalah pencegahan wabah dan normalisasi akses, agar warga tak hanya bertahan, tapi mulai bangkit.
Kesimpulan
Perjuangan warga Aceh Tamiang dari banjir bandang ini adalah pengingat betapa rapuhnya keseimbangan antara manusia dan alam. Dari 42 nyawa yang hilang hingga ratusan ribu yang mengungsi, kisah mereka penuh duka tapi juga inspirasi ketangguhan. Dengan bantuan yang terus mengalir dan semangat gotong royong, harapan pulih mulai terlihat. Namun, ini juga panggilan untuk langkah preventif lebih baik: drainase yang layak, peringatan dini, dan adaptasi iklim. Aceh Tamiang akan bangkit, seperti selalu, tapi kali ini dengan pelajaran berharga agar bencana tak lagi jadi tamu tahunan. Semoga ketabahan warga ini jadi doa yang dijawab, membawa hari-hari cerah kembali ke tanah subur mereka.