Ditemukan jejak Kimia Abadi di Roti dan Mie di Eropa. Hasil pengujian independen yang dirilis pada 13 Januari 2026 menunjukkan bahwa sebagian besar roti kemasan dan mie instan yang beredar di pasar Eropa mengandung jejak PFAS atau senyawa kimia abadi. Zat ini ditemukan pada tingkat yang melebihi batas aman yang direkomendasikan oleh badan kesehatan Eropa. Pengujian dilakukan terhadap lebih dari 120 sampel produk dari berbagai negara anggota Uni Eropa. Hampir 70 persen sampel roti dan 85 persen sampel mie instan positif mengandung PFAS dalam konsentrasi yang bervariasi. Temuan ini langsung memicu kekhawatiran publik karena senyawa tersebut dikenal sulit terurai di lingkungan maupun di dalam tubuh manusia, sehingga disebut “kimia abadi”. BERITA BOLA
Apa Itu PFAS dan Bagaimana Bisa Masuk ke Makanan: Ditemukan jejak Kimia Abadi di Roti dan Mie di Eropa
PFAS adalah kelompok ribuan senyawa kimia buatan yang digunakan sejak 1950-an karena sifat tahan air, tahan minyak, dan tahan panas. Di industri makanan, zat ini sering muncul melalui kemasan anti lengket, kertas pembungkus berlapis, atau peralatan pengolahan yang mengandung lapisan anti lengket. Dalam kasus roti kemasan, jejak PFAS paling banyak ditemukan pada kemasan kertas berlapis yang digunakan untuk menjaga roti tetap renyah. Sedangkan pada mie instan, kandungan tertinggi terdeteksi pada bumbu bubuk dan kemasan foil yang digunakan untuk menahan minyak. Senyawa ini bisa bermigrasi ke makanan selama proses penyimpanan atau pemanasan. Badan pengawas makanan Eropa menyatakan bahwa meskipun kadar yang ditemukan tidak langsung menyebabkan keracunan akut, paparan jangka panjang melalui makanan sehari-hari bisa meningkatkan risiko gangguan hormon, penurunan sistem imun, hingga masalah perkembangan pada anak.
Dampak Kesehatan dan Respons Regulator: Ditemukan jejak Kimia Abadi di Roti dan Mie di Eropa
Paparan kronis terhadap PFAS telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan serius. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara senyawa ini dengan gangguan tiroid, penurunan kesuburan, serta peningkatan risiko kanker tertentu. Anak-anak dan ibu hamil dianggap kelompok paling rentan karena senyawa ini bisa menumpuk di tubuh dan diturunkan melalui ASI. Setelah temuan ini diumumkan, beberapa negara anggota Uni Eropa langsung mengeluarkan peringatan agar konsumen mengurangi konsumsi produk yang dikemas dengan kertas berlapis atau foil mengkilap. Badan keamanan pangan Uni Eropa menyatakan akan melakukan pengujian ulang secara massal dan memperketat batas residu PFAS pada kemasan makanan mulai tahun ini. Beberapa produsen besar sudah mengumumkan komitmen untuk beralih ke kemasan bebas PFAS dalam waktu 12–18 bulan ke depan, meski proses penggantian bahan baku masih membutuhkan waktu dan biaya besar.
Reaksi Publik dan Langkah Pencegahan
Kabar ini langsung memicu keresahan di kalangan konsumen Eropa. Banyak orang mulai memeriksa kemasan roti dan mie instan di rumah, lalu beralih ke produk segar atau kemasan sederhana tanpa lapisan mengkilap. Di media sosial, tagar terkait PFAS dan makanan cepat saji menjadi trending di beberapa negara. Beberapa kelompok masyarakat sipil menyerukan agar pemerintah tidak hanya mengandalkan janji produsen, melainkan langsung melarang penggunaan PFAS dalam kemasan kontak makanan. Di sisi lain, para ahli gizi menyarankan masyarakat untuk lebih sering memasak makanan sendiri menggunakan bahan segar sebagai langkah pencegahan paling efektif. Pemerintah beberapa negara juga mulai mempercepat program penggantian peralatan dapur di sekolah dan rumah sakit agar bebas dari senyawa ini. Situasi ini menjadi pengingat bahwa bahan kimia yang awalnya dianggap aman ternyata memiliki dampak jangka panjang yang baru dipahami belakangan.
Kesimpulan
Temuan jejak kimia abadi di roti dan mie instan di Eropa menjadi peringatan serius tentang risiko paparan bahan kimia dalam makanan sehari-hari. Meski kadar yang ditemukan tidak langsung berbahaya, akumulasi jangka panjang bisa membawa konsekuensi kesehatan yang tidak ringan. Respons cepat dari regulator dan produsen diharapkan bisa mengurangi paparan di masa depan, namun tanggung jawab terbesar tetap ada pada konsumen untuk lebih selektif memilih produk. Kasus ini juga menegaskan perlunya regulasi yang lebih ketat terhadap bahan kimia dalam kemasan makanan agar kesehatan masyarakat tidak lagi dikorbankan demi efisiensi industri.