Dubes AS Duduki Bak Gubernur Kolonial. Kontroversi diplomatik meletup di Turki setelah foto Duta Besar Amerika Serikat Tom Barrack beredar luas. Dalam kunjungan ke kantor Menteri Pertahanan Turki, Barrack duduk di kursi menteri dengan sikap yang dikritik sebagai “seperti gubernur kolonial”. Foto yang diambil pada Senin, 19 Januari 2026, ini memicu kecaman dari oposisi dan warganet Turki. Presiden Recep Tayyip Erdogan menyatakan ketidakpuasan, menyebutnya pelanggaran protokol yang menyinggung kedaulatan negara. Barrack membela diri, mengatakan itu hanya miskomunikasi budaya, tapi insiden ini memperburuk hubungan AS-Turki yang sudah tegang. BERITA TERKINI
Pendahuluan: Dubes AS Duduki Bak Gubernur Kolonial
Insiden dimulai saat Barrack bertemu Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler di Ankara. Foto menunjukkan Barrack duduk santai di kursi utama menteri, sementara Guler berdiri di samping. Gambar ini langsung viral di media sosial, dengan tagar #ColonialAmbassador menjadi tren di Turki. Oposisi seperti Partai Rakyat Republik menyebut sikap Barrack mencerminkan arogansi AS terhadap negara mitra. Pemerintahan Erdogan langsung bereaksi, memanggil duta besar sementara AS untuk klarifikasi. Barrack, yang baru menjabat sejak akhir 2025, mengaku tidak bermaksud menyinggung, tapi kritik tetap mengalir karena dianggap mengabaikan etika diplomatik. Insiden ini terjadi di tengah ketegangan bilateral, termasuk isu Kurdi dan sanksi ekonomi.
Reaksi Keras dari Pihak Turki: Dubes AS Duduki Bak Gubernur Kolonial
Pemerintah Turki langsung menyoroti pelanggaran protokol. Juru bicara kementerian luar negeri menyatakan bahwa duduk di kursi tuan rumah tanpa izin adalah bentuk ketidakhormatan yang jarang terjadi. Presiden Erdogan dalam pidato televisi menyebutnya “sikap seperti gubernur kolonial yang tak bisa diterima di era modern”. Oposisi memanfaatkan momen ini untuk menyerang pemerintahan, menuduh Erdogan terlalu lunak terhadap AS. Warganet Turki ramai mengkritik, dengan meme dan karikatur menggambarkan Barrack sebagai penguasa kolonial. Beberapa demo kecil terjadi di depan kedutaan AS di Ankara, menuntut permintaan maaf resmi. Respons ini mencerminkan sentimen nasionalis yang kuat di Turki, di mana sejarah Ottoman sering dikaitkan dengan kebanggaan atas kedaulatan.
Konteks Hubungan AS-Turki yang Tegang
Insiden ini bukan kejadian terisolasi. Hubungan AS-Turki sedang panas karena perbedaan pandangan soal Suriah, dukungan AS terhadap milisi Kurdi, dan sanksi ekonomi atas pembelian rudal Rusia oleh Turki. Barrack ditunjuk Trump untuk memperbaiki relasi, tapi sikapnya justru memperburuk. Sebelumnya, Barrack juga menuai kritik di Lebanon karena komentar kasar terhadap jurnalis, menyebut mereka “seperti hewan”. Kritikus melihat ini sebagai pola sikap superioritas kolonial dari diplomat AS di wilayah sensitif. Pemerintahan Biden sebelumnya berusaha menjaga keseimbangan, tapi era Trump kedua tampak lebih agresif. Turki, sebagai anggota NATO, menekankan bahwa insiden seperti ini bisa merusak kerjasama militer dan ekonomi bilateral.
Dampak Jangka Panjang dan Upaya Diplomatik
Kejadian ini berpotensi memicu ketegangan lebih lanjut. Turki mengancam memanggil duta besarnya dari Washington jika tidak ada permintaan maaf resmi. AS melalui Departemen Luar Negeri menyatakan sedang menyelidiki, tapi Barrack tetap bertugas. Beberapa analis diplomatik menilai ini bisa menjadi pelajaran bagi AS untuk lebih sensitif terhadap budaya lokal. Di sisi lain, insiden ini memperkuat narasi anti-Barat di Turki, yang bisa dimanfaatkan Erdogan untuk konsolidasi dukungan domestik. Upaya mediasi melalui saluran NATO sedang dilakukan untuk meredakan situasi. Barrack dijadwalkan memberikan pernyataan resmi dalam waktu dekat, diharapkan bisa menenangkan pihak Turki tanpa kehilangan muka.
Kesimpulan
Foto Duta Besar AS Tom Barrack yang duduk seperti gubernur kolonial telah memicu badai diplomatik di Turki. Insiden ini menyoroti kerapuhan hubungan bilateral yang sudah tegang, dengan kritik atas sikap arogan yang dianggap mengingatkan era kolonial. Meski Barrack membela diri sebagai miskomunikasi, reaksi keras dari Erdogan dan oposisi menunjukkan betapa sensitifnya isu kedaulatan. Di tengah era geopolitik yang rumit, insiden kecil seperti ini bisa berdampak besar pada kerjasama internasional. Harapannya, kedua pihak bisa menyelesaikan dengan dialog matang agar tidak merembet ke konflik lebih luas. Turki dan AS tetap mitra strategis, tapi kepercayaan harus dibangun kembali melalui sikap saling hormat.