Israel Menggempur Lebanon Saat Sedang Gencatan Senjata. Di tengah gencatan senjata yang rapuh sejak November 2024, Israel kembali gempur Lebanon dengan serangkaian serangan udara yang menargetkan infrastruktur Hezbollah. Pada 12 Desember 2025, militer Israel klaim lakukan 10 serangan di selatan Lebanon, termasuk desa-desa seperti Mahrouna, Jbaa, dan al-Majadel, dengan alasan cegah kelompok bersenjata rearm. Ini pelanggaran terbaru sejak gencatan senjata yang dibroker AS, yang seharusnya akhiri 14 bulan konflik yang rampas 4.000 nyawa Lebanon dan 120 Israel. Serangan ini sebabkan satu warga sipil tewas dan tujuh luka di Jbaa, tambah ketegangan di perbatasan. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam sebut ini “serangan di bawah api”, sementara UNIFIL laporkan lebih dari 10.000 pelanggaran Israel sejak gencatan senjata. Di saat damai seharusnya tumbuh, serangan ini jadi pengingat betapa rapuhnya kesepakatan—dunia kini tunggu respons Hezbollah yang selama ini sabar. BERITA VOLI
Serangan Terbaru dan Klaim Israel: Israel Menggempur Lebanon Saat Sedang Gencatan Senjata
Serangan 12 Desember fokus selatan Lebanon, dekat Sungai Litani. Militer Israel bilang targetnya gudang senjata Hezbollah “di jantung populasi sipil”, termasuk situs pelatihan dan drone eksplosif. Serangan di Jbaa, misalnya, hantam bangunan yang katanya pusat produksi senjata, sebabkan satu tewas dan tujuh luka—termasuk anak-anak. Ini ikut pola: sejak gencatan senjata, Israel lakukan hampir 5.198 pelanggaran, termasuk 657 serangan udara, kata tentara Lebanon. Klaim Israel: Hezbollah langgar kesepakatan dengan tak mundur utara Litani dan impor senjata—mereka klaim hancurkan 20 truk amunisi sejak November. Tapi Hezbollah bilang serangan ini provokasi, karena tak ada tembakan langsung ke Israel sejak gencatan senjata, kecuali satu insiden Desember di wilayah pendudukan. Perdana Menteri Salam sebut negosiasi sipil baru-baru ini “di bawah api”, tuntut komite pemantau lebih kuat.
Pelanggaran Gencatan Senjata yang Berlanjut: Israel Menggempur Lebanon Saat Sedang Gencatan Senjata
Gencatan senjata November 2024 janji hentikan permusuhan: Hezbollah mundur utara Litani, Israel tarik pasukan selatan Blue Line dalam 60 hari. Tapi realita beda. UNIFIL catat Israel bangun tembok beton di Lebanon, okupasi parsial di lima titik strategis, dan serangan hampir harian. Laporan PBB November bilang 127 sipil Lebanon tewas sejak gencatan senjata, termasuk anak-anak—diduga “kejahatan perang”. Di utara, 80.000 Lebanon tak pulang ke rumah perbatasan karena takut tembakan Israel. Hezbollah, yang lemah pasca perang, tolak dialog langsung, bilang itu “jebakan normalisasi”. Serangan terbaru tambah korban: di Dahieh Beirut, Israel bunuh kepala staf Hezbollah Haytham Tabtabai minggu lalu. Lebanon tuntut pasukan AS-Prancis untuk verifikasi, tapi Israel tolak—bikin kesepakatan retak lebih dalam.
Respons Internasional dan Dampak Lokal
Dunia bereaksi campur. PBB minta investigasi independen atas pelanggaran, sementara AS—broker utama—desak Israel kurangi serangan, tapi tak tegas. Lebanon ajukan keluhan ke Dewan Keamanan, tuntut Israel tarik pasukan. Di Gaza, serangan ini tambah tekanan pada gencatan senjata paralel, karena Hezbollah dukung Hamas. Lokal, warga selatan Lebanon trauma: desa seperti Alma el-Shaab hancur, 335 tewas dan 973 luka sejak November 2024. Ekonomi hancur: $11 miliar kerugian, pertanian rusak, dan 30.000 Israel masih mengungsi utara. Hezbollah sabar, tapi ancam balas jika serangan lanjut—risiko perang baru naik. Salam janji angkat perwakilan sipil untuk dialog, tapi di bawah bayang Israel, damai terasa jauh.
Kesimpulan
Serangan Israel ke Lebanon saat gencatan senjata jadi pukulan telak bagi perdamaian rapuh, dari klaim target Hezbollah hingga pelanggaran harian yang rampas nyawa sipil. Ini soroti kegagalan kesepakatan: Israel okupasi parsial, Lebanon tuntut verifikasi, dan dunia desak dialog. Dampaknya parah—trauma warga, ekonomi hancur, dan risiko eskalasi. Salam dan Netanyahu harus tegas: hentikan “damai di bawah api”. Bagi Gaza dan Lebanon, ini pelajaran pahit: gencatan senjata butuh penegakan, bukan kata-kata. Pantau komite pemantau—karena satu serangan lagi bisa picu api baru.