Konsumsi Buah dan Sayur Masih Rendah di Indonesia. Konsumsi buah dan sayur di Indonesia masih tergolong rendah, meski negara ini kaya akan produksi hortikultura. Data terkini menunjukkan bahwa rata-rata asupan harian hanya sekitar 240 gram per kapita, jauh di bawah rekomendasi minimal 400 gram per hari. Survei kesehatan nasional mengungkap bahwa mayoritas penduduk hanya mengonsumsi 1-2 porsi buah dan sayur sehari, bahkan ada yang tidak sama sekali dalam seminggu. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kurangnya asupan ini berkontribusi pada peningkatan penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi. Para ahli terus mengkampanyekan peningkatan konsumsi untuk mencapai pola makan bergizi seimbang. BERITA BOLA
Faktor Penyebab Rendahnya Konsumsi: Konsumsi Buah dan Sayur Masih Rendah di Indonesia
Rendahnya konsumsi buah dan sayur dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, seperti akses dan harga yang masih menjadi hambatan di beberapa daerah. Di perkotaan, gaya hidup sibuk membuat orang lebih memilih makanan olahan atau cepat saji yang praktis tapi rendah nutrisi. Kebiasaan keluarga dan pengaruh lingkungan juga berperan—banyak anak dan remaja tidak terbiasa makan sayur karena rasa atau tekstur yang kurang disukai. Selain itu, ketersediaan buah segar sering terbatas di pasar tradisional, sementara promosi makanan tinggi gula dan garam lebih masif. Survei menunjukkan bahwa alasan umum termasuk tidak suka, stok tidak ada, atau malas mengolah, sehingga pola makan harian cenderung didominasi karbohidrat olahan.
Dampak Kesehatan dari Kurang Buah dan Sayur: Konsumsi Buah dan Sayur Masih Rendah di Indonesia
Kurangnya asupan buah dan sayur menyebabkan defisit vitamin, mineral, serta serat yang esensial untuk tubuh. Ini memicu masalah pencernaan seperti sembelit kronis, wasir, hingga risiko kanker usus besar karena racun lebih lama kontak dengan dinding usus. Kekurangan serat juga berkontribusi pada obesitas dan diabetes tipe 2, karena tubuh kurang kenyang dan gula darah sulit terkontrol. Pada jantung, rendahnya kalium dan antioksidan meningkatkan hipertensi serta penyumbatan arteri. Anak-anak dan remaja rentan anemia, gangguan pertumbuhan, serta daya tahan tubuh lemah. Jangka panjang, kondisi ini mempercepat penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian di Indonesia.
Upaya Peningkatan Konsumsi di Masyarakat
Berbagai kampanye terus digalakkan untuk tingkatkan konsumsi, seperti gerakan makan buah nusantara dan edukasi di sekolah serta komunitas. Tips praktis termasuk tambah sayur di setiap hidangan utama, camilan buah segar, serta pilih variasi warna untuk nutrisi lengkap. Pemerintah mendorong produksi lokal agar harga lebih terjangkau, sementara keluarga bisa mulai dari kebiasaan sederhana seperti isi setengah piring dengan sayur dan buah. Perubahan bertahap ini terbukti efektif, dengan tambahan 100 gram harian saja sudah memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan usus dan metabolisme.
Kesimpulan
Konsumsi buah dan sayur yang masih rendah di Indonesia menjadi tantangan besar yang perlu diatasi bersama untuk kurangi beban penyakit tidak menular. Dari faktor akses hingga kebiasaan harian, rendahnya asupan ini berdampak luas pada kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Dengan edukasi, ketersediaan lebih baik, dan komitmen pribadi, target 400 gram per hari bisa tercapai secara bertahap. Pada akhirnya, meningkatkan konsumsi buah dan sayur bukan hanya untuk tubuh lebih sehat, tapi juga langkah preventif murah yang mendukung generasi mendatang hidup lebih bugar dan produktif.