Trump Buka Suara Mengenai Penembakan di Brown University. Presiden Donald Trump akhirnya buka suara mengenai tragedi penembakan di Brown University, Providence, Rhode Island, yang terjadi pada Sabtu, 13 Desember 2025. Insiden di gedung teknik dan fisika itu menewaskan dua mahasiswa serta melukai sembilan lainnya, semuanya mahasiswa. Trump menyatakan telah mendapat briefing lengkap dari timnya dan menekankan pentingnya berdoa untuk korban. Ia menyebut kejadian ini sebagai “hal yang mengerikan” dan “memalukan”, sambil memastikan bahwa agen federal sedang berada di lokasi. Pernyataan ini datang di tengah pencarian intensif terhadap pelaku yang masih buron hingga malam hari. BERITA BOLA
Pernyataan Trump Secara Langsung: Trump Buka Suara Mengenai Penembakan di Brown University
Trump menyampaikan responsnya melalui postingan di media sosial serta komentar kepada wartawan di Gedung Putih. Ia awalnya menyatakan bahwa pelaku sudah ditangkap, tapi segera mengoreksi setelah informasi resmi dari polisi kampus berubah. “Saya telah diberi briefing penuh tentang situasi di Brown University, hal yang mengerikan sekali,” ujarnya. Trump menambahkan bahwa saat ini hanya bisa berdoa untuk korban dan yang terluka parah, serta berjanji akan ada update lebih lanjut. Ia juga mengucapkan berkat Tuhan bagi korban dan keluarga mereka. Respons ini mencerminkan sikap hati-hati di awal penyelidikan, tanpa spekulasi motif, sambil menyoroti keterlibatan federal dalam kasus tersebut.
Latar Belakang Insiden Penembakan: Trump Buka Suara Mengenai Penembakan di Brown University
Penembakan terjadi sekitar pukul 16.00 waktu setempat, saat mahasiswa sedang mengikuti sesi review ujian akhir di gedung Barus and Holley. Pelaku, seorang pria berpakaian hitam, masuk dan menembak di ruang kelas lantai satu sebelum kabur ke arah Hope Street. Kampus langsung lockdown, dengan perintah shelter in place untuk area sekitar. Lebih dari 400 personel penegak hukum dikerahkan, termasuk tim federal, untuk menyisir gedung dan lingkungan. Pintu luar gedung ternyata tidak terkunci karena sedang ada beberapa ujian, yang kini jadi bahan evaluasi keamanan. Hingga kini, senjata belum ditemukan, dan video pengawasan menunjukkan sosok pelaku berjalan santai meninggalkan lokasi.
Dampak pada Komunitas Kampus
Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi komunitas Brown University, salah satu perguruan tinggi Ivy League bergengsi. Presiden universitas Christina Paxson menyebut hari itu sebagai “hari tragis yang tak terbayangkan” dan memastikan semua korban adalah mahasiswa. Banyak mahasiswa bersembunyi berjam-jam, bergantung pada alert kampus dan informasi dari teman. Ujian akhir dibatalkan, dan evakuasi dilakukan bertahap ke tempat aman. Insiden ini menambah kekhawatiran soal kekerasan senjata di kampus Amerika, terutama saat periode ujian yang sibuk. Keluarga korban mendapat dukungan langsung, sementara pencarian pelaku terus berlanjut dengan himbauan kepada publik untuk melapor jika melihat orang mencurigakan.
Kesimpulan
Pernyataan Trump yang menekankan doa dan briefing federal menunjukkan perhatian pemerintah pusat terhadap tragedi di Brown University. Meski pelaku masih bebas, respons cepat dari otoritas setempat dan federal memberikan harapan bahwa kasus ini segera terpecahkan. Kejadian ini sekali lagi mengingatkan betapa rentannya lingkungan pendidikan terhadap kekerasan senjata, dan perlunya langkah pencegahan lebih kuat. Komunitas kampus kini fokus pada pemulihan, sambil berduka atas hilangnya dua nyawa muda. Situasi seperti ini memicu refleksi nasional tentang keamanan bersama di tempat belajar.